Terima Kasih Indonesia | M88 Thailand, M88 Malaysia

Terima Kasih Indonesia
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim foto bersama usai jumpa pers bersama panitia nasional Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia serta IMF dan Bank Dunia, yang dilaksanakan pada akhir pertemuan, Minggu (14/10), di Nusa Dua,Bali. ( Foto: Bank Indonesia / istimewa )
Nasori / Nida Sahara / ALD Senin, 15 Oktober 2018 | 15:49 WIB

Mangupura – Sepanjang pekan lalu, Bali menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 34.000 delegasi dari 189 negara anggota, termasuk di dalamnya sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan, menteri keuangan dan gubernur bank sentral, serta tokoh-tokoh yang bergerak di bidang jasa finansial global.

Meskipun mendapat sorotan kritis dari sejumlah kalangan di Tanah Air, event akbar tersebut berjalan lancar dan sukses. Sebagai tuan rumah, Indonesia mendapat apresiasi dari para tokoh yang hadir. Apresiasi tidak semata lantaran penyelenggaran pertemuan, tetapi juga substansi pidato Presiden Joko Widodo yang mendapat sorotan luas, karena dianggap berani mengkritik kondisi perekonomian global yang saat ini didominasi rivalitas antarkekuatan. Dengan mengambil analogi film seri Game of Thrones, Presiden Jokowi mengingatkan perang dagang di perekonomian global yang tengah menggejala saat ini tidak akan menguntungkan pihak yang kalah dan menang.

Pidato tersebut sontak mendapat respons positif dari banyak kalangan, termasuk dari Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dan Presiden Bank Dunia Kim Jim Yong. “Pekan ini Indonesia memberikan kepada kira visi yang penuh inspirasi untuk memperbarui upaya yang sejalan dengan semangat multilateralisme,” ujar Kim dalam konferensi pers penutupan pertemuan tahunan, Minggu (15/10).

“Terima kasih Indonesia atas semua jerih payah Anda,” ucap Lagarde pada kesempatan yang sama.

Menurut Lagarde, sukses penyelenggaraan pertemuan tahunan bisa memberikan cerita baik bagi Indonesia, yang sedang berjuang memulihkan kembali daerah terdampak bencana alam, dan kondisi global menghadapi ancaman proteksionisme.

Dalam pertemuan tahunan tersebut, dihasilkan komunike bersama 189 negara anggota yang mencakup enam poin. Keenam poin dimaksuk yakni, mempromosikan sistem moneter dan keuangan internasional yang tangguh, memfasilitasi solusi multilateral untuk tantangan global, membantu anggota dalam meningkatkan ketahanan dan prospek pertumbuhan, mengadaptasi alat-alat kebijakan yang pas bagi kebutuhan yang berkembang dari anggota, memperkuat keberlanjutan dan transparansi utang, memberikan dukungan bagi negara-negara berpenghasilan rendah serta negara-negara rapuh dan kecil.

Selain itu, melalui pertemuan tahunan tersebut Indonesia juga memetik manfaat bagi perekonomian. Di antaranya dicapainya kesepakatan investasi langsung dan portofolio senilai US$ 13,5 miliar (sekitar Rp 200 triliun), kerja sama keuangan local currency swap arrangements senilai US$ 10 miliar dengan Monetary Authority Singapore, serta perluasan jaringan ekspor dan pariwisata akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, pengembangan pasar modal, sekaligus resiliensi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Dampak Positif
Secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai, dampak dari Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali sudah pasti positif untuk perekonomian nasional dan lokal, seperti menaikkan produk domestik regional bruto Bali, sektor wisata, dan ekonomi Indonesia secara umum.

“Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia ada yang formal maupun informal, itu harus terus ditindaklanjuti dan terus dikawal hingga kerja sama bisa terealisasi,” ungkapnya.

David menjelaskan, Indonesia berpeluang memperoleh multiplier effect yang besar dalam jangka panjang, terutama dari sisi investasi. Ia pun membeberkan, pada Sabtu (13/10) misalnya, delegasi RI banyak bertemu dengan berbagai investor dan CEO perusahaan mancanegara yang hadir pada pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali.

“Mereka saling bertukar pikiran dan informasi mengenai peluang-peluang bisnis yang bisa dikembangkan di Indonesia. Ini juga event yang kita tunggu-tunggu,” kata dia.

David memperkirakan, dalam beberapa kuartal ke depan hasil-hasil dari kesepakatan yang diperoleh selama pertemuan di Bali akan terlihat, terutama dari sisi foreign direct investmet (FDI). Sebagai contoh, realisasi kesepakatan investasi hingga Rp 200 triliun yang sebagian besar untuk sektor riil infrastruktur.

Event itu juga menjadi suatu kehormatan bagi Indonesia, karena hanya sedikit negara yang dipercaya untuk menyelenggarakan pertemuan tahunan sebesar ini. Ini menjadi kesempatan emas dengan hadirnya berbagai CEO dari berbagai negara. Pertemuan ini dapat menjadi showcase, kita bisa memperkenalkan proyek-proyek, Indonesia juga menjadi highlight headline di berbagai media internasional,” ujar David.

Pemerintah Indonesia juga dinilai berhasil memasukkan isu-isu yang menjadi prioritas kita ke di forum internasional tersebut. Ini antara lain mengenai peningkatan pasar modal, pengelolaan utang, lingkungan, dan pengurangan kemiskinan.
David juga mengingatkan agar komunike yang berisi enam pesan utama dalam pertemuan tahunan IMF-World Bank selalu dikawal, agar benar-benar diimplementasikan.



Sumber: Investor Daily
CLOSE