Jakarta - Saat ini banyak perawatan kulit yang ditawarkan. Namun, terkadang perawatan kulit tidak sesuai dengan kesehatan kulit yang dibutuhkan.
Ahli kecantikan, Gaby Syerly, mengatakan, saat ini pemeriksaan kulit yang ada kebanyakan melalui metode observasi klinis oleh dokter ataupun menggunakan skin analyzer. Saat ini, telah hadir skin DNA genomic test yang merupakan terobosan baru dalam dunia kecantikan.
"Ini merupakan tes terbaru dan satu-satunya di Indonesia. Pemeriksaan skin DNA genomic test sendiri telah banyak digunakan di berbagai negara," ujar Gaby di sela media gathering Youth & Beauty Clinic, di Jakarta, Senin (10/9).
Gaby menjelaskan, skin DNA genomic test bertujuan mengetahui kondisi kulit. Tidak hanya itu, melaui tes tersebut juga dapat seberapa resiko penurunan produksi kolagen kulit, resiko kerutan muncul, hiperpigmentasi atau flek yang akan timbul, resiko inflamasi seperti jerawat dan resiko alergi.
"Tes ini hanya mengambil contoh air liur pasien dan dibawa ke laboratorium di Korea Selatan. Setelah 3-4 minggu, hasilnya pun keluar. Dilakukan sekali seumur hidup, mampu memprediksi resiko penuaan pada kulit berdasarkan gen dan mampu merekomendasikan treatment yang sesuai dengan kondisi gen pasien," jelasnya.
Menurutnya, dengan hasil tersebut, pasien akan mendapatkan perawatan sesuai dengan kebutuhan dan lebih bersifat personal. "Bahkan, perawatan kulit yang dilakukan pun akan lebih tepat sasaran," tandasnya.
Sementara itu, artis Ussy Sulistiawaty mengatakan, hasil dari tes menunjukan proses penuaan pada kulitnya berjalan normal. Sehingga, dirinya selalu terlihat awet muda, dan terbebas dari jerawat. Ussy mengaku hampir jarang mengalami jerawat pada wajahnya. Namun, hasil tes mengenai pigmentasi dari kulitnya sangat berisiko.
"Memang saya mengalami sempat pigmentasi yang sangat mengganggu. Setelah itu, saya pun menjalani perawatan laser untuk menghilangkannya. Hasilnya pun bisa dilihat saat ini, semua pigmentasinya sudah tidak terlihat lagi," tambahnya.