Yogyakarta Ditetapkan Sebagai Kota Kebudayaan ASEAN | M88 Thailand, M88 Malaysia

Yogyakarta Ditetapkan Sebagai Kota Kebudayaan ASEAN
Pelajar SMA di Sleman, mendeklarasikan gerakan cinta budaya dipimpin anggota DPD RI asal DIY, GKR Hemas, di SMAN 1 Pakem, Sleman, Rabu,24 Oktober 2018. ( Foto: suara pembaruan / fuska sani evani )
Fuska Sani Evani / JEM Kamis, 25 Oktober 2018 | 14:56 WIB

Yogyakarta - Kota Yogyakarta ditetapkan sebagai City of Culture ASEAN atau Kota Kebudayaan ASEAN. Predikat itu diberikan oleh Forum ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts (AMCA) ke-8 dan pertemuan ke-14 Asean Senior Officials Meeting Responsible on Culture and Arts (SOMCA) yang berlangsung di Yogyakarta.

Dirjen Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hilmar Farid, Rabu (24/10) malam menyatakan, penetapan Yogyakarta sebagai City of Culture ASEAN, merupakan tradisi dalam pertemuan AMCA dan SOMCA.

Dikatakan, tiap negara tuan rumah wajib menunjuk satu kota untuk mendapatkan predikat tersebut untuk dua tahun ke depan dan Yogya menjadi kota kelima di ASEAN yang dipilih sebagai Kota Kebudayaan ASEAN, sebelumnya Kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam yang menyandang predikat Kota Kebudayaan ASEAN.

Indonesia menjadi tuan rumah untuk pertemuan AMCA ke-8 dan pertemuan terkait seperti pertemuan pejabat senior ASEAN untuk kebudayaan dan kesenian (ASEAN Senior Officials Meeting for Culture and Arts/SOMCA), pertemuan AMCA Plus Three (AMCA, Tiongkok, Japan, and Republic of Korea), SOMCA Plus Three. Pertemuan-pertemuan tersebut dilaksanakan pada 21-25 Oktober 2018.

“Indonesia menunjuk Yogyakarta dan mendapat persetujuan penuh dari seluruh anggota, karena Yogyakarta sudah menunjukkan budaya yang inklusif dengan masyarakatnya yang plural, mampu hidup secara inklusi,” ujarnya.

Dengan predikat city of culture tersebut, Yogyakarta memiliki konsekuensi menyusun rencana kerja yang memuat tema besar tentang culture of prevention atau budaya mencegah hal buruk.

“Yogyakarta dalam setiap kegiatan harus melibatkan prinsip budaya untuk mencegah hal buruk. Kementerian melakukan pendampingan, namun eksekutornya Pemda DIY. Internasional juga terlibat, pendidikan dan norma bisa masuk ke level pendidikan, dan Pemerintah RI ingin Yogya jadi pelopor,” terangnya.

Sebelumnya, Mendikbud Muhadjir Effendy mengharapkan Indonesia menjadi negara yang memimpin untuk mempromosikan ASEAN yang unggul di sektor kebudayaan.

"Di antara negara-negara ASEAN, jumlah penduduk di Indonesia paling besar dan dengan wilayah yang sangat luas, juga memiliki kekayaan budaya dan peninggalan budaya yang sangat kaya, sehingga kita harus berada di paling depan dalam mempromosikan kawasan ASEAN, terutama di sektor kebudayaan," katanya.

Mendikbud berharap, Indonesia berada di garis terdepan dalam membawa ASEAN semakin maju terutama di sektor kebudayaan.
Menurut dia, pertemuan AMCA itu mendorong kerja sama kebudayaan yang lebih erat untuk melestarikan dan memperkenalkan kebudayaaan di kawasan ASEAN kepada dunia.

Deklarasi Cinta Budaya
Bersamaan dengan penetapan itu, pelajar SMA di KabupatenSleman mendeklarasikan gerakan cinta budaya di SMAN 1 Pakem, Sleman, Rabu. Dipimpin langsung oleh anggota DPD RI dari DIY, GKR Hemas, para pelajar mendeklarasikan bahwa senantiasa menjadikan Pancasila, UUD 45 sebagai dasar berfikir dan berperilaku, menjunjung tingi persahabatan, toleransi dan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam Bhineka Tunggal Ika dan menjadikan budaya Yogyakarta sebagai jati diri peserta didik dalam bingkai NKRI. Kepada pelajar, GKR Hemas berpesan agar deklarasi itu jangan hanya menjadi sumpah di mulut, tetapi juga diaplikasikan dalam keseharian, dan keluar dari hati.

"Saya juga berharap apa yang dideklarasikan ini harus diimplementasikan tidak sekadar deklarasi. Menyatukan siswa dan murid untuk belajar dengan baik dan memahami tradisi DIY," kata GKR Hemas.

Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X ini berharap, generasi istimewa dimulai dari Yogya dan didukung dengan pengawasan masing-masing sekolah. Sekolah harus tahu persis dalam mempertahankan budaya, juga mempertahankan budaya bangsa.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE