Pandji Pragiwaksono: Komika Bukan Sekedar Hobi | M88 Thailand, M88 Malaysia

Pandji Pragiwaksono: Komika Bukan Sekedar Hobi
Pandji Pragiwaksono. ( Foto: Istimewa )
Dina Fitri Anisa / FER Selasa, 16 Januari 2018 | 17:27 WIB

Jakarta - Memulai karir sebagai seorang pelawak tunggal atau yang lebih dikenal dengan komika pada 2010, Pandji Pragiwaksono (38) kini telah menjadi salah satu pelopor lahirnya komika muda di Indonesia, dengan mencetuskan ajang perlombaan lawak tunggal bertajuk, Stand Up Comedi Indonesia (SUCI).

"Bagi saya, ini sebuah kepercayaan. Karena tentu tidak sembarang orang yang dipercayakan untuk menjadi sutradara, penulis skenario, ataupun comedy consultant di sebuah film," ungkap Pandji, saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (15/1).

Menurutnya, kegiatan yang awalnya hanya disangka sebagai hobi belaka, nyatanya mampu membuahkan hasil yang manis. Diketahui, setelah komika Ernest Prakasa naik daun menjadi sutradara dan penulis skenario di beberapa film, Pandji tergoda untuk menjajal dan menantang dirinya untuk menggarap, menulis, sekaligus menjadi pemain di sebuah film komedi aksi berjudul, Partikelir.

"Komika yang baru merintis karir yang sedang belajar bisa melihat bahwa, standup comedy itu bukan sekedar hobi. Tetapi bisa jadi profesi kalau mereka bisa fokus dan disiplin dalam membangun karir mereka. Artinya, lewat standup comedy mereka bisa geser profesi yang lebih luas lagi," tutur pria kelahiran Singapura ini.

Berbagi Pengalaman

Dengan sepak terjang yang sudah dilaluinya dalam dunia komedi, Pandji kerap berbagi pengalaman kepada komika-komika baru. Hal ini dilakukannya karena kerap kali banyak pemula yang salah pijak. Bahan lelucon yang mereka lontarkan bukan hanya menimbulkan tawa, namun juga konflik seperti yang kerap terjadi belakangan ini.

"Saya ingin mengingatkan bagi orang-orang yang akan ataupun yang sudah menjadi komika, bahwa untuk membuat dan berbicara mengenai isu sensitif kita harus memahami dan memiliki kemampuan yang matang terlebih dahulu," tuturnya.

Pandji bahkan mengakui, dirinya kerap membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menulis sebuah materi secara matang dan selalu memperhitungkan perasaan orang yang akan menontonnya.

"Kita tidak bisa bawa-bawa agama, ras, ataupun sosial karena hanya keinginan, tapi harus ada keresahan. Saya sering kali membawakan isu sensitif, dan perlu delapan bulan untuk menulis bahan tersebut," jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE